.

Pemikiran Soe Hok Gie dalam Persepsi

Pemikiran Soe Hok Gie dalam Persepsi

Kutipan dari https://betwin188.website/  pada tahun 60-an Indonesia, 20 tahun sesudah Bangsa Indonesia mendeklarasikannya dirinya sebagai Negara yang merdeka, ada pemikir, pengerak dan pemantau dari segala sisi di roda pemerintahan terutama yang bernada human interest. Di kalangan pemuda dan pemudi yang termasuk reaktif menggalakkan keadilan di zaman yang tak mengenal yang namanya keadilan, di zaman yang tak pernah mendengar aspirasi dari masyarakat, di zaman yang kesemua peraturan berada di atas tampa mendengar sumbangsi pemikiran dari kaum intelek yang mengupayakan mengusung martabat kaum tertindas, familiar salah seorang intelek yang muncul dengan pendiriannya yang teguh dan konsisten saat melulu ada dua opsi di Indonesia yaitu apatis dan idealis, ia rela memungut pilihan kedua walaupun ia nantinya bakal di jauhi, dipisahkan dan ditampik ketikahendak melakukan ingrup untuk pihak lain, ya dialah Soe Hok Gie, kolumnis yang dengan tajam mengkritik pemerintah tampa pernah menyaksikan kepentingannya sendiri dan tak pernah memperdulikan keselamatan dirinya. Ia selalu menyaksikan ke“bawah” dan tidak selalu menyaksikan ke“atas”. Saat iming-iming di hadapan mata, ia tidak jarang kali mengambiltahapan untuk menghindari iming-iming itu. Masyarakat Indonesia, terutama pembaca setia harian surat kabar Nasional yang beredar, tentu pernah mendengar nama Soe Hok Gie di nyaris semua Harian Surat Kabar. Konsepsi pemikirannya yang analitis tidak jarang kali dikaitkan dengan orang-orang besar laksana Mahatma Gandhi, yang di setiap peluang selalu terdapat dalam artikel tangannya. Di dalam kehidupan Soe Hok Gie, ia dikenal sebagai moralis absolut dan humanis universal. Asumsi ini di dasarkan pada prilaku dan sikapnya yangtersingkap untuk bergaul dengan siap saja, entahkah dia sebagai musuh maupun lawan, laksana yang disebutkan teman kolega Soe Hok Gie, Luki Sutirsno Bekti. Ia pun penganut paham pluralisme, multi kultural, berpandangan demokratis, dan lebih ingin mementingkan kepentingan orangbeda ketimbang kepentingan dirinya sendiri. 27 tahun kehidupan Soe Hok Gie yang begitu relatif singkat, tidak sedikit membuka tabir dan membelalakkan mata orang awam. Pemikirannya yang analitis kritis digunakannya dengan sebaik-baik mungkin, ini telihat dariartikel yang termuat di harian surat kabar nasional yang begitu frontal dan tersingkap tampa menyembunyikan atau mengayomi pihak lain. Ia pun sangat peduli terhadap pembunuhan massal yang tak mengenal salah atau benar, artikel ini termuat di harian Mahasiswa Indonesia dengan tulisan yang berjudul “Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-Besaran Di Pulau Bali” edisi Minggu II dan Minggu III tahun 1967. Ia pun prihatin untuk para tahanan yang di tahan tampa proses hukum dan tampa batas masa-masa yang di tentukan, laksana salah seorang sastrawan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, yang di tahan sebab karya-karyanya yang dipandang sebagai provokator untuk membangkang pemerintahan. Dalam kehidupan Soe Hok Gie, yang tidak jarang kali di kenal ialah Buku, Film, Seni, Alam, Cinta, Masa Lalu, dan Kemanusiaan, dan kesemuanya di olah dalam pemikiran Soe Hok Gie dan membuat suatu pandangan yang segar guna merearlisasikan keidupan yang menurut keterangan dari diaialah suatu yang perfect dan pemikiran ini seharusnya hidup di masanya akan namun hidup pula di masa sekarang. Pemikiran ini juga ia himpun dalam sebuah konsepsi yang tak pernah terrealisasikan dan melulu menjadi kegundahan untuk dirinya, dan ia luap kan dengan suatu karya yang tak berjudul dan ditulis pada tanggal 29 Oktober tahun 1968, yang kesemuanya hanyalah mimpi. Anak keempat dari lima bersaudara, family Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, kelahiran 17 Desember tahun 1942 ini, tidak jarang kali menumbuhkan inspirasi untuk orang lain. John Maxwell salah satunya, Maxwell mendapat gelar PhD dari Australian National University pada tahun 1997, mengusung Soe Hok Gie sebagai sentral riset desertasi-nya dansudah di Bukukan; Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani. Penelitian Maxwell lebih menekankan perbuatan dan tahapan Soe Hok Gie dalam melawan tirani, dan di antara kutipan dari daftar harian Soe Hok Gie menyelesaikan suatu bab dalam kitab John Maxwell, yang di muat di dalam kitab Soe Hok Gie, Sekali Lagi, yaitu “Aku rasa seluruh yang terdapat dalam artikel-artikelku ialah petasan-petasan kecil. Dan aku hendak mengisinya dengan bom”. Tidak melulu itu di tahun 1980-an,masing-masing aktivis Mahasiswa tidak dapat di katakan sebagai aktivis andai belum membaca daftar harian Soe Hok Gie. Catatan harian Soe Hok Gie yang di bukukan yakni, Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, yang telah tidak sedikit menginsprisari semua aktivis tahun 80-an, dan lebih mementingkan masyarakat yang terzdalimi oleh kesewenang-wenangan pemerintah di bawah pemerintahan orde baru, dan penguatan tersebut dikerjakan Soe Hok Gie dengan kejujuran dan konsistennya pada idealismenya yang tertuang di daftar hariannya. Pemikiran Soe Hok Gie yang “frontal” mulai tumbuh pada 4 maret 1957 saat angka Ulangan Ilmu Buminya di kurangi 3 angka dan menjadi 5. Dendam amarah ketidakadilan mulai hadir pada ketika itu, “Hari ini ialah ketika dendam mulai membatu,”tulisnya.

 

Leave a Comment