.

Penjelasan Teknologi Digital sebagai Dunia Kebudayaan Milenial

Penjelasan Teknologi Digital sebagai Dunia Kebudayaan Milenial

Mengapa teknologi digital menjadi jagat kebudayaan para Milenials?

 

Teknologi Digital Milenial
Teknologi Digital Milenial

 

Menurut http://www.pokertiam.net/ sejak kelahiran internet di era 80-an, teknologi digital datang ke hadapan kita. Website menjadi produk global di awal 90-an. Lalu muncul pager sampai PGA di era yang serupa. Era smartphone dimulai saat Samsung dan iPhone banyak merilis gawai mereka. Dan sampai saat, dari 7 miliar populasi dunia 3,2 miliarnya sudah terkoneksi internet.

Kaum Milenials adalah generasi yang lahir dan berkembang seiring cepatnya inovasi teknologi digital. Sosmed menjadi media mereka berkomunikasi. Internet sebagai sumber informasi aktual dan faktual mereka. Dan gawai sebagai kebutuhan primer dan keberterimaan sosial mereka.

Indonesia kini memiliki 134 juta pengguna internet. Semua sisi kehidupan kita tak pernah terpisah dari dunia digital. Saat manusia dan dunia sekitarnya menjadi korelasi mutual, jagat kebudayaan pun terbentuk.

Dengan besarnya jumlah pengguna, teknologi menjadi arena ekonomi. Mulai dari informasi kebutuhan sandang hingga papan didapat via gawai. Mata uang virtual tanpa tatap muka penjual-pembeli pun menjadi pola transaksi.

Algoritma iklan via sosmed atau mesin peramban menjadi tokonya. Micro targeting berkat algoritma menjadi senjata pemasaran produk. Informasi pembeli dari mulai perilaku klik, sampai lokasi menjadi komoditas ekonomis.

Teknologi digital pun menjadi media pemudah pendidikan. Guru, dosen, bahkan siswa mungkin lebih membutuhkan Google daripada buku. Tak bisa dihindari juga artikel sampai skripsi mahasiswa adalah hasil penelusuran via Google.

Banyak sekali jurnal, buku digital, dan situs kini bisa diakses via gawai. Tak usah perlu lagi pergi ke perpustakaan. Atau bahkan membeli buku fisiknya di toko buku. Cukup beberapa klik, informasi edukatif bisa diakses dan diunduh.

Isu sosial pun tak pernah surut menjadi sorotan di dunia maya. Mulai dari isu perundungan di sekolah sampai isu sensitif dengan SARA bertumburan via sosmed. Semua orang ingin tahu dan melihat dan men-share konflik yang ada. Namun jarang yang mau meredakan dan meredam konflik serupa terjadi di lain waktu dan tempat.
Ujaran kebencian dan radikalisme menjadi latensi konflik bersembunyi di akun-akun palsu. Pemerintah dan aktifis internet 24/7 berpatroli di dunia maya. Tetapi dengan puluhan/ratusan juta interaksi yang ada. Memberangus aktor jahat dibalik semua ini seperti kenihilan.

Meraih suara pemilu dan opini publik pada isu politik terwadahi sempurna di dunia maya. Saat suara mayoritas menjadi patokan kebenaran politis. Membentuk populasi buatan pun mudah dilakukan via sosmed. Penggiringan opini sampai pembentukan mindset publik bukan lagi propaganda tersembunyi.

Ketika demokrasi terbuka menjadi arah penentu bangsa. Demokrasi kini redup terhalangi perspektif post-truth dunia maya. Semua opini politik menyangkut pembenahan sistem kenegaraan dan politik benar karena diyakini benar secara pribadi.

Pun dengan ranah hiburan, kesehatan, keamanan ketahanan bangsa, dan hubungan bilateral teknologi. Tanpa teknologi informasi menjadi infrastruktur ranah-ranah tadi. Tidak mungkin ranah-ranah tadi bertahan di era digital saat ini.

Para Milenials sudah menjadikan teknologi teman saat mata terbuka hingga mereka tertidur. Mereka memesan makan via online. Membeli baju di toko online. Mencari jawaban tugas PR via Google. Sampai mencari tontonan pun via dunia virtual.

Coba Anda sebutkan aktifitas apa yang kiranya tiada terwadahi aplikasi yang ditawarkan dunia digital?

Tak ayal, dunia digital adalah kebudayaan para Milenials. Mereka hidup dan berkembang bersandingan dengan dunia digital via gawai mereka. Menjauh dari gawai akan mungkin akan menjadi stereotipe ‘manusia purba’. Mereka yang tidak melek teknologi pun seolah tertinggal dalam semua hal.
Batasan identitas kenegaraan, etnisitas, bahkan agama tiada jelas di dunia maya. Semua orang bisa menjadi siapapun di dalam dunia daring. Anonimitas adalah keniscayaan pengguna internet. Representasi inferior diri tidak menjadi keunggulan di dunia maya.

Namun kembali disayangkan, teknologi di Indonesia masih menjadi instrumen. Sedang banyak negara lain menjadikan teknologi artefak dalam peguatan dan pembangunan generasinya. Teknologi digital di kita tidak menjadi kurikulum, mata pelajaran, bahkan modul di kelas.

Teknologi digital masih menjadi dunia euforis daripada literasi di negri ini. Dan sampai kapan kita menjadi pengguna dan penghabis teknologi semata. Tanpa memahami sedikit saja dunia yang para Milenials Indonesia huni.

Leave a Comment